ASPEK KELESTARIAN

 

Rencana Pengelolaan Hutan Lestari Terpadu (ISFMP)
Kegiatan pengelolaan hutan lestari PT. WKS dilakukan dengan memperhatikan kaidah-kaidah pengelolaan hutan lestari. Pengelolaan lestari ini tidak lepas dari kebijakan perusahaan yang menerapkan sistem pengelolaan hutan yang ramah lingkungan dan dapat diterima oleh masyarakat yang tentunya juga dapat menguntungkan secara ekonomi bagi masyarakat.

  • Selain itu untuk menunjukan komitmennya, sejak tahun 2013 PT WKS mulai melaksanakan penyusunan Integrated Sustainable Forest Management Plan (ISFMP) yang bertujuan untuk mencapai pengelolaan hutan secara lestari dengan memadukan semua aspek sebagai bagian dalam penentuan perencanaan pengelolaan hutan. Pola pengelolaan diarahkan dengan skema pendekatan landscape dengan langkah-langkah yang dilaksanakan antara lain:
  • Penilaian High Conservation Value Forest/Area, High Carbon Stock, Growth & Yield
  • Penyusunan Rekomendasi Pengelolaan areal gambut oleh Panel Pakar
  • Pemetaan Social Conflict Area
  • Penyusunan dan Pelaksanaan Konsultasi Pemegang Kepentingan (stakeholders) kunci wilayah Jambi untuk menentukan tingkat kepentingan rekomendasi
  • Penyusunan Kelompok Kerja ISFMP.

Kelola Produksi
Rencana kelola produksi berdasarkan rencan RKT tahunan PT. Wirakarya Sakti dengan periode waktu pada bulan Januari - Desember. Berikut disajikan rencana kelola aspek produksi untuk tahun 2018.

A. ASPEK PRODUKSI
1. Perencanaan
Dasar kegiatan operasional PT. WKS adalah Rencana Kerja Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Tanaman (RKUPHHK-HT) Periode 2018-2027 yang disahkan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui SK. 759/MenLHK-PHPL/UPH/HPL.1/2/2018 tanggal 14 Februari 2018. RKUPHHK ini menjadi acuan dalam penyusunan Rencana Kerja Tahunan (RKT) perusahaan. RKT selanjutnya menjadi dasar legal di dalam melaksanakan seluruh kegiatan operasional hutan tanaman.

2. Penataan batas
SK definitif yaitu SK Menteri Kehutanan No. 744/Kpts-II/1996 tanggal 25 November 1996 jo SK Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. SK 57/Menlhk/Setjen/PHL.0/1/2018 tanggal 26 Januari 2018 tentang Perubahan Keempat atas Keputusan Menteri Kehutanan No. 744/Kpts-II/1996,dengan luas konsesi seluas 290.378 Ha.

3. Pembukaan wilayah hutan dan pengadaan sarana prasarana
PT.WKS melaksanakan kegiatan Pembukaan Wilayah Hutan (PWH) yang meliputi pembangunan jaringan kanal dan jalan, base camp, dan sarana prasarana lainnya.

4. Pembibitan
Untuk memenuhi kebutuhan bibit tanaman, PT WKS telah membangun pusat persemaian (nursery) yang berlokasi di Sei Tapah pada areal seluas 65 Ha dengan kapasitas produksi mencapai 108 juta bibit/tahun. Nursery yang ada dilengkapi dengan fasilitas modern dan tenaga kerja yang memadai.Fasilitas serta infrastruktur nursery yang dimiliki antara lain: Greenhouse, sistem pengairan pengabutan dan sprayer, production lines, stool plant house, laboratorium pengembangan (lab. tissue culture, lab. silvikultur, lab hama dan penyakit), perkantoran, gudang dan bangunan pendukung lainnya.

5. Penyiapan Lahan dan Penanaman

Kegiatan penyiapan lahan mempunyai tujuan untuk mempersiapkan lahan yang akan ditanami agar bersih dari pohon dan/atau tanaman pengganggu. Kegiatan awal penyiapan lahan berupa pembersihan lahan dari pohon, semak belukar, gulma, dan vegetasi lainnya yang tumbuh di areal tanaman. Kegiatan penyiapan lahan PT. WKS menerapkan prinsip Penyiapan Lahan Tanpa Bakar (PLTB).
Penanaman dilakukan secara rutin setiap tahun dan dilakukan pada petak yang telah dilakukan pengukuran, jarak tanam yang diatur sesuai dengan kaidah silvikultur, jarak tanam di tanah mineral 3 x 2,5 m (semua jenis). Sedangkan penanaman di areal gambut dilakukan dengan jarak tanam 3 x 2 m untuk jenis Acacia Crassicarpa.

6. Pemeliharaan
Kegiatan pemeliharaan tanaman mengacu pada Standard Operating Procedure meliputi kegiatan pemupukan, penyulaman dan penyiangan (weeding). Jadwal pelaksanaan pemeliharaan tanaman (luas dan waktunya) mengikuti jadwal penanaman dan jadwal teknis silvikultur HTI.

7. Pemanenan (Harvesting)
Sejauh ini perusahaan telah mempunyai mekanisme sendiri untuk menanggulangi dampak negatif terhadap tanah dengan sistem low soil compaction yaitu dengan membuat mulsa menggunakan potongan ranting dan daun bekas pohon yang sudah ditebang di areal tebangan. Sistem penebangan yang diterapkan di unit manajemen terdiri dari sistem semi mekanis dengan menggunakan gergaji mesin tangan (chainsaw) dan sistem mekanis dengan menggunakan alat berat.

 

8. Lacak Balak/ Chain of Custody (CoC)
Sebagai perusahaan hutan tanaman industri PT. Wirakarya Sakti (PT. WKS) berkomitmen untuk melakukan kegiatan pemanfaatan hasil hutan kayu yang bersumber dari pengelolaan hutan secara lestari berdasarkan atas prinsip-prinsip lacak balak kayu (CoC).

Selain menerapkan SIPUHH On-Line sebagai basis monitoring kayu (mandatory), PT Wirakarya Sakti telah memiliki sistem penulusuran kayu yang berbasis komputer yang disebut dengan Wood Tracking Sistem (WoTS). Sistem ini memungkinkan untuk menelusuri perjalanan dokumen yang menyertai pengangkutan kayu.Berdasarkan sistem ini dapat diketahui apabila dokumen dan kayunya telah sampai ke tujuan akhir penerima.Dan berdasarkan informasi dokumen “Surat Pengantar Angkutan KB/KBK” dapat diketahui asal usul kayu yang dikirimkan.

Kelola Lingkungan
Dasar kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan PT. WKS yaitu berdasarkan dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL), Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) dan Dokumen AMDAL yang telah disetujui sesuai Kepgub Jambi No. 78 Tahun 2005 tanggal 21 April 2005, tentang Penggabungan dan Tambahan Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL) Kegiatan IUPHHK-HT PT WKS.

1. Pengelolaan Kawasan Lindung
PT Wirakarya Sakti dengan areal pengelolaan seluas ±290.378 ha Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. SK.57/Menlhk/Setjen/HPL.0/1/2018 tanggal 26 januari 2018 telah mengalokasikan kawasan lindung seluas 109.462 ha (37,70 %). Penetapan areal konservasi ini tidak hanya untuk memenuhi ketentuan tata ruang areal hutan tanaman sebesar 10%, namun disesuaikan pula dengan kaidah-kaidah penetapan areal konservasi sesuai standar Deliniasi Mikro. Hal ini yang menyebabkan adanya perkembangan luasan kawasan lindung mulai dari AMDAL sampai dengan penetapan tata ruang berdasarkan RKUPHHK terakhir.

2. Pengelolaan dan Pemantauan Flora dan Fauna
Pada areal kawasan lindung terdapat sejumlah jenis flora dan fauna yang tersebar di sekitar areal berhutan. Diatara flora dan fauna tersebut teridentifikasi jenis-jenis yang dilindungi berdasarkan CITES, IUCN serta peraturan lokal yang mengaturnya.

Kegiatan identifikasi fauna yang dilakukan meliputi identifikasi satwa liar baik status dilindungi maupun tidak dilindungi dan jenis-jenis satwa liar yang dan/atau langka, jarang, terancam punah dan endemik. Teknik pengamatan satwa liar yang digunakan adalah teknik inventarisasi dengan metode pengamatan langsung (metode sistem jalur/jalur transek) dan metode pengamatan tidak langsung (pendugaan populasi berdasarkan jejak, bau dan suara serta tanda-tanda lain yang menunjukkan keberadaan satwa) serta wawancara dengan karyawan dan masyarakat sekitarnya.

Berdasarkan hasil identifikasi flora atas kerjasama PT. WKS dengan Universitas Jambi (UNJA) pada tahun 2017, terdata 154 jenis dari 38 famili atau suku teridentifikasi pada stadia pohon. Secara umum Kawasan lindung PT. Wirakarya Sakti tergolong baik kondisi ekologinya, ditandai dengan dijumpainya jenis-jenis dari suku Dipterocarpaceae mencapai 11 jenis. Suku dengan jumlah jenis cukup banyak lainnya yaiitu famili Moraceae, Lauraceae, Myrtaceae, dan Euphorbiaceae. Hasil penelitian Purwanto et al. (2003) di kawasan lindung PT. Wirakarya Sakti juga menunjukkan bahwa bahwa famili Myrtaceae termasuk salah satu famili atau suku yang mendominasi. Suku Euphorbiaceae juga termasuk suku yang memiliki jumlah jenis yang paling banyak dbandingkan suku lainnya. Hal ini karena selain jumlah jenisnya banyak Euphorbiaceae termasuk suku yang memiliki daya adaptasi yang tinggi dan toleran terhadap segala macam kondisi.

Mengacu pada hasil pelaksanaan inventarisasi flora dan fauna yang telah dilaksanakan pada areal PT WKS bekerjasama denga Universitas Jambi (UNJA) (2017), diketahui bahwa beberapa vegetasi alam yang tumbuh masuk dalam katagori terancam punah, rentan dan bahaya (masuk dalam daftar merah IUCN), merupakan spesies endemik, spesies dilindungi sesuai dengan PP No. 7 Tahun 1999 dan masuk dalam daftar CITES. Data mengenai vegetasi alam yang berada di areal IUPHHK-HT PT. WKSI disajikan pada Tabel berikut

Tabel daftar satwa yang dilindungi yang berada di areal Kerja PT. WKS berdasarkan status perlindungan jenis fauna (PP 7/1999, CITES dan Redlist IUCN).

1. Daftar Jenis Mamalia

No

Tingkat Tropik/ Nama Lokal

Nama Ilmiah

Status *)

IUCN

CITES

 

Felidae

 

Dilindungi

 

 

1

Macan Dahan

Neofelis diardi

 

Vulnerable A2c; C1 ver 3.1

Appendix II

2

Macan Akar

Prionailurus bengalensis

Dilindungi

Least Concern ver 3.1

Appendix I

3

Harimau sumatera

Pantera tigris sumatrae

Dilindungi

Endangered A2abcd; C1 ver 3.1

Appendix I

 

Viverridae

 

 

 

 

4

Musang

Paradoxurus hermaphroditus

Tdk Dilindungi

Least Concern ver 3.1

Appendix III

 

Ursidae

 

 

 

 

5

Beruang madu

Helarctos malayanus

Dilindungi

Vulnerable A2cd+3cd+4cd ver 3.1

Appendix I

 

Herbivoa Hystricide

 

 

 

 

6

Landak

Hystrix brachyura

Dilindungi

Least Concern ver 3.1

-

 

Tapiridae

 

 

 

 

7

Tapir/ Tenuk

Tapirus indicus

Dilindungi

Endangered A2bcd+3bcd; C1 ver 3.1

Appendix I

 

Elephantidae

 

 

 

 

8

Gajah sumatera

Elephas maximus sumatrensis

Dilindungi

Endangered A2c ver 3.1

Appendix I

 

Suidae

 

 

 

 

9

Babi Hutan

Sus scrofa

Tdk Dilindungi

Least Concern ver 3.1

-

 

Cervidae

 

 

 

 

10

Rusa

Rusa unicolor

Dilindungi

Vulnerable A2cd+3cd+4cd ver 3.1

-

 

11

Kijang

Muntiacus  muntjak

Dilindungi

Least Concern ver 3.1

-

 

12

Kancil

Tragulus sp

Dilindungi

Least Concern ver 3.1

-

13

Napu

Tragulus napu

Dilindungi

Least Concern ver 3.1

-

 

Cercopithecidae

 

 

 

 

14

Simpai

Presbytis melalophos

Dilindungi

Endangered A2cd ver 3.1

-

15

Beruk

Macaca nemestrina

Tdk dilindungi

Vulnerable A2cd ver 3.1

-

16

Monyet ekor panjang

Macaca fascicularis

Tdk Dilindungi

Least Concern ver 3.1

-

 

Hylobatidae

 

 

 

 

17

Ungko

Hylobates agilis

Dilindungi

Endangered A2cd ver 3.1

Appendix I

 

Lutrinae

 

 

 

 

18

Berang-berang

Lutra  sumatrana

Dilindungi

Endangered A2cde ver 3.1

Appendix II

 

Tupaidae

 

 

 

 

19

Tupai

Tupaia glis

Tdk Dilindungi

Least Concern ver 3.1

-

 

Sciuridae

 

 

 

 

20

Jelarang

Ratufa bicolor

Dilindungi

Near Threatened ver 3.1

Appendix II

21

Bajing

Callosciurus prevostii

Tdk Dilindungi

Least Concern ver 3.1

-

 

Muridae

 

 

 

 

22

Tikus

Rattus sp

Tdk Dilindungi

-

-

 

Lorisidae

 

 

 

 

23

Kukang

Nycticebus coucang

Dilindungi

Vulnerable A2cd ver 3.1

Appendix I

 

Insectivora-Manidae

 

 

 

 

24

Trenggiling

Manis javanica

Dilindungi

Critically Endangered A2d+3d+4d ver 3.1

Appendix II

Source : Laporan Inventarisasi Flora dan Fauna 2017

2. Daftar Jenis Aves

No

Tingkat Tropik/ Nama Lokal

Nama Ilmiah

Status

IUCN

CITES

 

Carnivora

 

 

 

 

 

Accipitridae

 

 

 

 

1

Elang

Elanus caeruleus

Dilindungi

Least Concern ver 3.1

-

 

Strigidae

 

 

 

 

2

Burung Hantu

Bubo sumatranus

Dilindungi

Least Concern ver 3.1

-

3

Enggang

Ninox scutulata

Dilindungi

Least Concern ver 3.1

-

 

Bucerotidae

 

 

 

 

4

Rangkong

Buceros rhinoceros

Dilindungi

Near Threatened ver 3.1

Appendix II

 

Corvidae

 

 

 

 

5

Gagak

Corvus corax

Dilindungi

Least Concern ver 3.1

-

 

Turdidae

 

 

 

 

6

Kucica

Copsychus salvaris

Tak Dilindungi

Least Concern ver 3.1

-

7

Murai Hutan

Saxicola torquatus

Dilindungi

Least Concern ver 3.1

-

8

Kucica Ekor Kuning

Trichixos pyrropygus

Tak Dilindungi

Near Threatened ver 3.1

-

 

Laniidae

 

 

 

 

9

Betet

Lanius schach

Dilindungi

Least Concern ver 3.1

-

 

Sturnidae

 

 

 

 

10

Beo

Gracula reliogosa

Dilindungi

Least Concern ver 3.1

Appendix II

 

Irinidae

 

 

 

 

11

Kecembang gadung

Irena puella

Tak Dilindungi

Least Concern ver 3.1

-

 

Alcedinidae

 

 

 

 

12

Bintik

Alcedo meninting

Tak Dilindungi

Least Concern ver 3.1

-

13

Cekakak belukar

Halcyon smyrnensis

Tak Dilindungi

Least Concern ver 3.1

-

 

Merpidae

 

 

 

 

14

Cirik Biru

Merops viridis

Tak Dilindungi

Least Concern ver 3.1

-

 

Capitonidae

 

 

 

 

15

Takur

Psilopogon rafflesii

Tak Dilindungi

Near Threatened ver 3.1

-

 

Picidae

 

 

 

 

16

Pelatuk

Micropternus brachyurus

Tak Dilindungi

Least Concern ver 3.1

-

 

Eurylamidae

 

 

 

 

17

Sempur

Eurylaimus ochromalus

Tak Dilindungi

Near Threatened ver 3.1

-

 

Campephagidae

 

 

 

 

18

Jingjing pentulak

Tephrodornis gularis

Tak Dilindungi

Least Concern ver 3.1

-

19

Sepah tulin

Pericrocotus igneus

Tak Dilindungi

Near Threatened ver 3.1

-

 

Timalidae

 

 

 

 

20

Pelanduk ekor pendek

Malacocincla  malaccensis

Tak Dilindungi

Near Threatened ver 3.1

-

21

Asi Kumis

Malacopteron magnirostre

Tak Dilindungi

Least Concern ver 3.1

-

22

Tepus tunggir merah

Stachyris erythroptera

Tak Dilindungi

Least Concern ver 3.1

-

23

Ciung

Myophonus glaucinus

Tak Dilindungi

Least Concern ver 3.1

-

 

Muscicapidae

 

 

 

 

24

Sriwang asia

Terpsiphone paradisi

Tak Dilindungi

Least Concern ver 3.1

-

 

Hirundinidae

 

 

 

 

25

Layang-layang rumah

Delichon dasypus

Tak Dilindungi

Least Concern ver 3.1

-

26

Layang-Layang api

Hirundo rustica

Tak Dilindungi

Least Concern ver 3.1

-

 

Columbidae

 

 

 

 

27

Balam

Spilopelia chinensis

Tak Dilindungi

Least Concern ver 3.1

-

28

Perkutut

Geopelia striata

Tak Dilindungi

Least Concern ver 3.1

-

29

Punai

Treron vernans

Tak Dilindungi

Least Concern ver 3.1

 

 

Phasianidae

 

 

 

 

30

Ayam hutan

Gallus varius

Dilindungi

Least Concern ver 3.1

-

31

Betet

Psittacula alexandri

Dilindungi

Near Threatened ver 3.1

Appendix II

 

3. Daftar Jenis Reptil

No

Nama Lokal

Nama Ilmiah

Jumlah

1

Biawak

Varanus rudicollis

3

2

Kadal

 

31

3

Ular sanca

Phyton reticulatus

6

4

Ular sawo

 

1

5

Ular Kobra

Naja Sumatranus

1

6

Ular hijau

 

1

7

Ular punai

 

1

8

Ular tiung

 

1

9

Bunglon

 

2

10

Ular lidi

 

1

11

Ular kubut/kadut

 

1

 

4. Daftar Jenis Vegetasi

No

Nama jenis

Nama latin

Famili

IUCN

PP No.7 Tahun 1999

CITES

1

Antui

Polyalthia sp.1

Annonaceae

-

-

-

2

Antui gunung

Polyalthia sp.2

Annonaceae

-

-

-

3

Antui putih

Goniothalamus macrophilus

Annonaceae

-

-

-

4

Arang-arang

Diospyros sp1.

Ebenaceae

-

-

-

5

Aras

 

 

-

-

-

6

Aro bumbung

Ficus hispida

Moracea

-

-

-

7

Asam kandis

Garcinia atroviridis

Clusiaceae

-

-

-

8

Badaro

Dimocarpus longan

Sapindaceae

Lower Risk/near threatened ver 2.3

-

-

9

Balam

Palaquium sp1.

Sapotaceae

-

-

-

10

Balam inai

Palaquium sp3

Sapotaceae

-

-

-

11

Balam kapur

Palaquium sp2

Sapotaceae

-

-

-

12

Balam merah

Palaquium sp4

Sapotaceae

-

-

-

13

Balam putih

Palaquium sp5

Sapotaceae

-

-

-

14

Balam sawo

Payena levii

Sapotaceae

-

-

-

15

Balam terong

Palaquium confertum

Sapotaceae

-

-

-

16

Balam tulo

Helicia rostrata

Proteaceae

Vulnerable D2 ver 2.3

-

-

17

Bangkinang

Elaeocarpus sp.2

Elaeocarpaceae

-

-

-

18

Bayur

Pterospermum sp.

Sterculiaceae

-

-

-

19

Bekil

Artocarpus sp.3

Moraceae

-

-

-

20

Belanti

 

 

-

-

-

21

Belimbing

Averrhoa bilimbi

Oxalidaceae

-

-

-

22

Berangan

Quercus sp.2

Fagaceae

-

-

-

23

Berangan babi

Quercus sp.

Fagaceae

-

-

-

24

Berangan landak

Castanopsis sp.

Fagaceae

-

-

-

25

Bernai

Antidesma sp

Phyllanthaceae

-

-

-

26

Berumbung

Pertusadina multifolia

Rubiaceae

-

-

-

27

Bulian

Eusideroxylon zwageri

Lauraceae

Vulnerable A1cd+2cd ver 2.3

-

-

28

Bungur hutan

Lagerstroimea speciosa

Lythraceae

-

-

-

29

Bunot

Ficus glauca

Moraceae

-

-

-

69

Cemanding

Horsfieldia subglobosa

Myristicaceae

-

-

-

30

Cempedak air

Artocarpus kemando

Moraceae

-

-

-

31

Cempedak kampung

Artocarpus heterophyllus

Moraceae

-

-

-

32

Darah-darah

Horsfieldia sp

Myristicaceae

-

-

-

33

Duren mas/ Duren hantu

Durio carinatus

Bombacaceae

-

-

-

34

Durian daun

Durio zibethinus

Bombacaceae

-

-

-

35

Gamat

Elaeocarpus serratus

Elaeocarpaceae

-

-

-

36

Gamat lanang

Elaeocarpus sp.1

Elaeocarpaceae

-

-

-

37

Gerisil

Ochanostachys sp.

Olataceae

-

-

-

38

Geronggang

Cratoxylon arborescens

Hypericaceae

-

-

-

39

Gerunjing/Jerunjing

 

 

-

-

-

40

Jambu Air

Eugenia sp2.

Myrtaceae

-

-

-

41

Jangkang

Xylopia malayana

Annonaceae

-

-

-

42

Jelutung

Dyera costulata

Apocynaceae

Lower Risk/least concern ver 2.3

-

-

43

Jelutung rawa

Dyera lowii

Apocynaceae

-

-

-

44

Jentik

Baccaurea sp.

Phyllanthaceae

-

-

-

45

Kabau

Archidendron microcarpum

Fabaceae

-

-

-

46

Kacang-kacang

Strombosia javanica

Olataceae

-

-

-

47

Kalbuk

Ficus sp.

Moraceae

-

-

-

48

Kapuk

Gossampinus malabarica

Bombacaceae

-

-

-

49

Kapur

Dryobalanops lanceolata

Dipterocarpaceae

Endangered A1cd ver 2.3

-

-

50

Kasai hutan

Pometia pinnata

Sapindaceae

-

-

-

51

Kayu aro

Ficus sumatrana

Moraceae

-

-

-

52

Kayu batu

 

 

-

-

-

154

Kayu bulan

 

 

-

-

-

53

kayu cabe

 

 

-

-

-

54

Kayu ipuh

Antiaris toxicaria

Moraceae

-

-

-

55

Kayu kijang

Irvingia malayana

Irvingiaceae

Lower Risk/least concern ver 2.3

-

-

56

Kayu menyan

Styrax benzoin

Stiraceae

-

-

-

57

Kayu paku

Diospyros sp.

Ebenaceae

-

-

-

58

Kayu sapu

 

 

-

-

-

59

Kedemai

Quercus sp.

Fagaceae

-

-

-

60

Kedondong

Dysoxylum sp.

Meliaceae

-

-

-

61

Kedondong

Santiria sp.

Burseraceae

-

-

-

62

Kedondong tunjuk

Pentaspadon motleyi

Anacardiaceae

Data Deficient ver 2.3

-

-

63

Kelat

Syzygium sp.

Myrtaceae

-

-

-

64

Kelat jambu

Eugenia sp4.

Myrtaceae

-

-

-

65

Kelat jantung

Eugenia sp5

Myrtaceae

-

-

-

66

Kelat lapis

Syzygium sp2.

Myrtaceae

-

-

-

67

Kelat merah

Syzygium sp6.

Myrtaceae

-

-

-

68

Kelat putih

Syzygium litoralis

Myrtaceae

-

-

-

70

Kemap

Strombosia ceilanica

Olataceae

-

-

-

71

Kempas

Koompassia malaccensis

Fabaceae

Lower Risk/conservation dependent ver 2.3

-

-

72

Kempas serap

Koompasia sp1

Fabaceae

-

-

-

73

Kranji

Dialium indum

Leguminosae

-

-

-

74

Keruing

Dipterocarpus sp.

Dipterocarpaceae

-

-

-

75

Kewangi

 

 

-

-

-

76

Kulim/ kayu bawang

Scorodocarpus borneensis

Olataceae

-

-

-

77

Leban

Vitex sp.

Verbenaceae

-

-

-

78

Mahang

Macaranga conifera

Euphorbiaceae

-

-

-

79

Mahang gading

Macaranga sp.

Euphorbiaceae

-

-

-

80

Mahang kancil/ putih

Macaranga pruinosa

Euphorbiaceae

-

-

-

81

Mahang merah

Macaranga triloba

Euphorbiaceae

-

-

-

82

Malapato

Nephelium sp.3

Sapindaceae

-

-

-

83

Mampat

Cratoxylon sumatranum

Hypericaceae

-

-

-

84

Manggis burung

Garcinia rigida

Clusiaceae

-

-

-

85

Mangium

Acacia mangium

Fabaceae

-

-

-

86

Mantangor

Callophyllum soulatri

Clusiaceae

-

-

-

87

Medang

Litsea sp.1

Lauraceae

-

-

-

88

Medang batu

Litsea sp.4

Lauraceae

-

-

-

89

Medang darah

Myristica sp.

Lauraceae

-

-

-

90

Medang keladi

Alseodaphne insignis

Lauraceae

-

-

-

91

Medang kunyit

Litsea firma

Lauraceae

-

-

-

92

Medang labu

Endospermum sp.

Euphorbiaceae

-

-

-

93

Medang Langit

Litsea sp.5

Lauraceae

-

-

-

94

Medang pauh

Maclurodendron sp.

Rutaceae

-

-

-

95

Medang payo

Litsea sp.3

Lauraceae

-

-

-

96

Medang reso

Litsea sp.6

Lauraceae

-

-

-

97

Medang siluang

Litsea sp.7

Lauraceae

-

-

-

98

Medang sirai

Cinnamomum sp.

Lauraceae

-

-

-

99

Mempening

Lithocarpus lucidus

Fagaceae

-

-

-

100

Mendarahan

Knema sp.

Myristicaceae

-

-

-

101

Mentangur

Callophylum inophyllum

Clusiaceae

-

-

-

102

Meranti

Shorea sp1

Dipterocarpaceae

-

-

-

103

Meranti balau

Shorea sp2

Dipterocarpaceae

-

-

-

104

Meranti bunga

Shorea teysmaniana

Dipterocarpaceae

-

-

-

105

Meranti kunyit/kuning

Shorea sp3.

Dipterocarpaceae

-

-

-

106

Meranti payo/rawa

Shorea parvifolia

Dipterocarpaceae

-

-

-

107

Merawan

Hopea mengerawan

Dipterocarpaceae

Critically Endangered A1cd, B1+2c ver 2.3

-

-

108

Mersawa

Anisoptera costata

Dipterocarpaceae

Endangered A2acd ver 3.1

-

-

109

Merubungan

Callerya sp.

Rutaceae

-

-

-

110

Muaro kepayang

Scaphium macropodum

Sterculiaceae

Lower Risk/least concern ver 2.3

-

-

111

Pelangas

Aporosa octandra

Phyllanthaceae

-

-

-

112

Perupuk

Lophopetalum sp.

Celastraceae

-

-

-

113

Petai

Parkia speciosa

Fabaceae

-

-

-

114

Petaling

Ochanostachys amentacea

Olataceae

Data Deficient ver 2.3

-

-

115

Pudu

Artocarpus sp2.

Moraceae

-

-

-

116

Punak

Tetramerista glabra

Theaceae

-

-

-

117

Raman

Bouea sp.

Anacardiaceae

-

-

-

118

Rambe

Baccaurea sp.

Phyllanthaceae

-

-

-

119

Rambutan

Nephelium sp.1

Sapindaceae

-

-

-

120

Rambutan hutan

Nephelium sp.2

Sapindaceae

-

-

-

121

Ramin

Gonystylus sp.

Thymelaceae

-

-

App. II

122

Rengas

Gluta renghas

Anacardiaceae

-

-

-

123

Rengas manuk

Melanorrhoea wallichii

Anacardiaceae

-

-

-

124

Ridan

Nephelium cuspidatum

Sapindaceae

-

-

-

125

Riung

Castanopsis sp.

Fagaceae

-

-

-

126

Rukam

Flacourtia rukam

Flacourtiaceae

-

-

-

127

Saga

Adenanthera sp.

Leguminosae

-

-

-

128

Samak

Galleria sp.

 

-

-

-

129

Sangoan

 

 

-

-

-

130

Sarkit

 

 

-

-

-

131

Sekedi

 

 

-

-

-

132

Selurah

Mesua hexapetala

Callophyllaceae

-

-

-

133

Sengon

Albizia chinensis

Fabaceae

-

-

-

134

Sekubung/merkubung

Macaranga gigantea

Euphorbiaceae

-

-

-

135

Serian

 

 

-

-

-

136

Serian kelik

 

 

-

-

-

137

Setepung

Calicarpa petandra

Lamiaceae

-

-

-

138

Sialang

Koompasia sp2.

Fabaceae

-

-

-

139

Siluk

Gironniera nervosa

Cannabaceae

-

-

-

140

Simpur

Dilenia sp1.

Dilleniaceae

-

-

-

141

Singkawang

Shorea singkawang

Dipterocarpaceae

Vulnerable A2cd ver 3.1

-

142

Singkil

Premna sp.

Lamiaceae

-

-

-

143

Sungkai

Peronema canescens

Verbenaceae

-

-

-

144

Tampui

Baccaurea dulcis

Phyllanthaceae

-

-

-

145

Tampunek

Artocarpus rigidus

Moraceae

-

-

-

146

Tapa/kayu tapa

 

 

-

-

-

147

Tembalun/sembalun

Parashorea lucida

Dipterocarpaceae

Critically Endangered A1cd, B1+2c, C2a ver 2.3

-

-

148

Tembesu

Fagraea fragrans

Loganiaceae

-

-

-

149

Temeras jantung

Memecylon sp2.

Melastomataceae

-

-

-

150

Tempinis

Sloetia elongata

Moraceae

-

-

-

151

Terap

Artocarpus odoratissimus

Moraceae

-

-

-

152

Terentang

Campnosperma sp.

Anacardiaceae

-

-

-

153

Tujang langit

 

 

-

-

-

Source : Laporan Inventarisasi Flora dan Fauna 2017

Keterangan :    CR (Critically Endangered) = terancam punah, EN (Endangered) = terancam, VU Vulnerable) = rentan, I: appendix I; II: appendix II;

Gambar Kegiatan Inventarisasi Flora dan Fauna PT. WKS

3. Pengelolaan dan Pemantauan HCV-HCS
Penilaian HCVF di areal PT. WKS sudah dilakukan pada tahun 2014 oleh APCS Konsultan. Dari hasil identifikasi di lapangan dapat diketahui nilai-nilai konservasi yang terdapat atau tidak ada pada kawasan-kawasan hutan yang ada di dalam UM, yaitu :

Tabel Hasil  Identifikasi HCV PT. WKS

HCV

Komponen

Ada

Tidak

Ada

CV 1.         Kawasan yang mempunyai tingkat keanekaragaman hayati yang penting

1.1.    Kawasan Lindung

 

1.2.    Spesies Dilindungi dan hampir punah

 

1.3.    Kawasan habitat spesies terancam dan dilindungi

 

1.4.    Konsentrasi Temporal Penting

 

CV 2.   Kawasan bentang alam yang penting bagi dinamika ekologi secara alami

2.1.    Bentangan hutan

 

2.2.    Kawasan alam yang berisi dua atau lebih ekosistem

 

2.3.    Kawasan yang berisi populasi yang mampu bertahan hidup

 

CV 3.   Kawasan yang mempunyai ekosistem langka atau terancam punah

Kawasan hutan yang merupakan tipe utama ekosistem yang representatif

 

CV 4.   Kawasan yang menyediakan jasa-jasa lingkungan alami

4.1.    kawasan untuk penyedia air dan pengendalian banjir bagi Maasyarakat Hilir

 

4.2.    Kawasan yang penting untuk pencegah erosi dan sedimentasi

 

4.3.    Kawasan hutan yang berfungsi sebagai sekat alam untuk mencegah kebakaran

 

CV 5.   Kawasan hutan yang sangat penting untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat lokal (misalnya ; subsisten, kesehatan)

 

 

 

 

 

CV 6.   Kawasan hutan yang sangat penting untuk identitas budaya tradisi masyarakat lokal (kawasan budaya, ekologi, ekonomi dan agama bagi masyarakat  lokal)

 

 

Sumber :Laporan Penilaian NKT Tahun 2014 oleh PT. Asia Pacific Consulting Solutions

 

Sebagai kontribusi penurunan emisi GRK dan untuk mencapai tujuan pengelolaan hutan berkelanjutan, pada 9 Februari 2013, Asia Pulp and Paper (APP) mengumumkan Kebijakan Konservasi Hutan (Forest Cosnservation Policy - FCP) yang berkomitmen pada ketiadaan jejak kaki deforestasi pada areal konsesi HTI. Hal ini dicapai dengan tidak mengembangkan perkebunan baru di wilayah yang memiliki Nilai Konservasi Tinggi (HCV), lahan gambut, dan/ atau daerah dengan Stok Karbon Tinggi (HCS).

Pada tahun 2013 APP melibatkan The Forest Trust (TFT) untuk melakukan Penilaian HCS di 40 area konsesi HTI di Sumatra dan Kalimantan termasuk PT. WKS didalamnya. Konsesi tersebut mencakup area gabungan sekitar 2,75 juta ha, dan dikelompokkan menjadi 6 wilayah. Ata Marie Group Ltd (Ata Marie) ditugaskan oleh TFT untuk melakukan penilaian.

Berdasarkan hasil penilaian HCS sebelumnya kemudian dilakukan pengembangan dengan dibuatkanya plot monitoring PSP HCS dikawasan PT. WKS. Kegiatan monitoring PSP HCS dilakukan berkala setiap tahunnya, tujuannya adalah untuk mendapatkan informasi/data nilai karbon pada masing-masing tutupan lahan area konservasi PT. Wirakarya Sakti yang dilaksanakan secara berkala dan terus menerus dan untuk memantau dinamika vegetasi dan nilai karbon dalam satu tutupan lahan.

Rekomendasi dari laporan akhir penilaian NKT akan digunakan sebagai salah satu komponen untuk pengembangan Integrated Sustainable Forest Management Plan (ISFMP) yang akan digunakan sebagai pedoman operasional yang baru untuk semua konsesi pemasok kayu APP.Hasil rangkuman eksekutif hasil penilaian PT. Wirakarya Sakti dapat ditemukan pada tautan ini.

4. Fire Management
Areal konsesi PT. Wirakarya Sakti terbagi menjadi dua zona yaitu zona Mineral dan zona basah (Gambut). Potensi bahaya kebakaran hutan di areal kerja tergolong besar. Hal ini disebabkan oleh faktor iklim, kondisi lahan, dan faktor sosial. Dari faktor iklim dan kondisi lahan, walaupun secara makro areal kerja beriklim sangat basah, namun secara mikro (harian) memungkinkan kondisi kering yang beturut-turut selama beberapa hari. Hal ini cukup untuk membuat serasah dan gambut bagian atas untuk kering dan mudah terbakar.

Dari segi sosial, masyarakat yang sebagian diantaranya masih menerapkan sistem pembakaran untuk membuka lahan pada musim kemarau juga membawa potensi kebakaran. Potensi ini menjadi lebih besar lagi karena terdapat bagian areal hutan tanaman yang berbatasan langsung dengan lahan masyarakat. Oleh sebab itu, PT. Wirakarya Sakti melakukan pendekatan-pendekatan secara sosial maupun secara teknis dilapangan.

PT. Wirakarya Sakti memiliki Komitmen yang sangat serius terkait Kebakaran Hutan dan lahan, baik itu kebakaran yang terjadi didalam kawasan konsesi atau pun diluar kawasan konsesi yang diimplementasikan dalam sebuah Kebijakan Tanpa bakar atau No Burn Policy sebagai berikut:
Untuk mendukung pengelolaan hutan lestari maka ditetapkan:

  1. Kami sangat tegas menerapkan kebijakan tanpa bakar dan mematuhi peraturan pemerintah yang berlaku.
  2. Kami tidak pernah memulai pembakaran dan berkosentrasi penuh dalam menjaga dan melawan pembakaran lahan oleh pihak-pihak lain.
  3. Kami fokus terhadap perlindungan aset tanaman kami yang sangat bernilai, yang sangat penting untuk kelestarian bisnis jangka panjang kami.
  4. Pembakaran dengan sangat tegas dilarang pada seluruh kegiatan operasional yang dicantumkan dalam standar prosedur operasional perusahaan.
  5. Kami menggunakan sarana dan prasarana pemadam kebakaran untuk membantu pemerintah daerah dan desa-desa di sekitar area konsesi.

 

 

Selain dari kebijakan tersebut, untuk mencegah dan menanggulangi kebakaran hutan disekitar wilayah konsesinya, ASIA PULP & PAPER (APP) dan Sinarmas Forestry merancang sebuah sistem terintegrasi yang disebut dengan Integreted Fire Management (IFM). Terdapat 4 pilar utama dalam IFM ini, yaitu:

1. Pencegahan

  • Program DMPA : Landasan utamanya adalah dengan memanfaatkan bidang agroforestri, masyarakat diarahkan dan dibina untuk berdaya dan sejahtera secara sosial-ekonomi dengan memanfaatkan sumber daya (alam dan manusia) yang sesuai dengan potensi dan karakteristik lokal.
  • Tata Kelola Air : Untuk mengurangi resiko kebakaran dilahan gambut APP dan SMF Group bekerjasama dalam memperbaiki tata kelola lahan gambut dengan cara menaikkan ketinggian air dikanal perimeter konsesi.
  • Insentif untuk Masyarakat Peduli Api (MPA) : Mengikut sertakan masyarakat sekitar konsesi HTI untuk melakukan patroli pencegahan kebakaran, selain sejumlah uang, masyarakat juga diberikan insentif berupa peralatan dan pelatihan dalam pemadaman kebakaran.


2. Persiapan

  • Incident Command System (ICS) : Merupakan perangkat/sistem yang mengatur garis komando, perencanaan, operasi, logistik, dan administrasi dalam sebuah situasi darurat.
  • Situation Room Center (SRC) : Ruang kontrol yang melakukan deteksi dini kebakaran secara real time 24 jam non-stop diwilayah konsesi SMF Group melalui pengolahan data dari citra satelit yang diverifikasi oleh petugas lapangan.
  • Pemetaan Jalur Patroli : Intensitas patroli disesuaikan dengan informasi tentang potensi kebakaran dari situation room dan panduan FDRS dari gabungan data cuaca, angin, dan kelembaban udara.
  • Kesiagaan RPK : Sebanyak 2700 personel RPK SMF Group yang telah tersertifikasi Manggala Agni senantiasa bersiaga di 266 pos pantau, tim RPK juga dilengkapi dengan 500 unitmobil patroli, 160 unit mobil pemadam kebakaran, dan 1150 unit pompa air.

 

3. Deteksi Dini

  • Deteksi Wilayah Kebakaran : Deteksi dilakukan oleh tiap distrik diwilayah konsesi berdasarkan informasi yang didistribusikan oleh Situation Room. Hal ini untuk memastikan apakah hotspot tersebut adalah titi apai atau bukan, maka petugas mengecek langsung kelapangan.
  • Citra Thermal : Alat ini digunakan untuk mendeteksi titik titik api dilahan gambut. Bekerja dengan menangkap perbedaan suhu ekstrim dipermukan tanah. Begitu panas terdeteksi, maka sistem akan mengirimkan data real yang kemudian disatukan dalam petak konsesi sehingga lokasi titik apai akan langsung terlihat disistem.
  • Pemantauan dari Ketinggian : Dilakukan melalui Menara Api yang tersebar di 80 titik dengan ketinggian kurang lenih 30 meter.

4. Respon Cepat

  • Komando dan Kontrol : Manajemen terpadu dalam menghadapi situasi darurat, dari mulai pihak Situation Room, Logistik peralatan, petugas RPK dilapangan, semua bergerak mengikuti garis komando yang telah ditetapkan.
  • RPK : Tim RPK secara intensif akan melakukan upaya pemadaman secara bergantian tanpa mengenal libur. Jika lokasi sulit dijangkau melalui jalan darat, akan dikirimkan tim pemadam kebakaran menggunakan helikopter.
  • Helikopter Water-boombing : Untuk menjangkau wilayah yang lebih sulit secara geografis, disediakan helikopter biasa 3 unt, dan helikopter besar jenis Super Puma 3 Unit untuk melakukan Water-boombing diareal kebakaran.

 

Kelola lingkungan yang dilakukan PT. Wirakarya Sakti dapat ditemukan pada tautan berikut ini.

Kelola Sosial

Potensi dan Kondisi Desa
Secara umum desa-desa yang ada didalam dan sekitar operasional perusahaan memiliki potensi untuk dikembangkan terutama pada sektor pertanian, peternakan, perkebunan dan kehutan terpadu. Sumber penghasilan masyarakat desa berasal dari pertanian, perikanan, peternakan, dan pengambilan hasil hutan. Komoditi yang banyak dibudidayakan masyarakat adalah tanaman padi, hortikultura (cabai, semangka, Jahedll), dan tanaman perkebunan (kelapa, karet dan kopi). Sedangkan di sektor peternakan dan perikanan, masyakarakat banyak yang berternak sapi, kambing dan berbagai jenis ikan. Selain itu di sektor ekonomi terdapat juga usaha kecil menengah (UKM) di bidang jasa, seperti usaha cabut bulu, demplot air isi ulang, pengeringan ubi dll.

Rencana Pemberdayaan Masyarakat
A. Program Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat
Dalam rangka menunjang keberhasilan pelaksanaan program CD/CSR, maka sumberdaya masyarakat sangatlah penting. Perusahaan telah mempersiapkan sumberdaya masyarakat melalui pelatihan-pelatihan baik pelatihan motivasi maupun teknis pertanian. Pelatihan motivasi dilaksanakan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat secara bersama-sama dalam wadah kelompok untuk membentuk kelembagaan dan melakukan kegiatan usaha produktif dan mengembangkan perekonomian lokal. Sedangkan pelatihan teknis dimaksudkan agar masyarakat dapat bertambah pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan bidangnya. Perusahaan bekerjasama dengan Dinas/instansi terkait dalam pelaksanaanya. Peran yang diambil oleh Dinas/Instansi terkait adalah penyediaan fasilitator dan pelatih serta penyiapan bahan pelatihan, sedangkan perusahaan berperan untuk memilih dan menyeleksi peserta pelatihan yang berasal dari desa binaan dan menyediakan sarana dan prasarana dalam pelaksanaan pelatihan.
Sejak tahun tahun 2006 - 2017 telah dilakukan kegiatan training motivasi dan teknis dengan jumlah peserta sebanyak 1493 orang yang berasal dari 62 desa. Training disampaikan dalam bentuk pelatihan terhadap masyarakat. Selama tahun 2017 telah dilakukan pelatihan kepada 19 desa binaan dengan jumlah peserta 81 orang. Kegiatan pelatihan yang telah dilakukan adalah:

  • Pelatihan adminitrasi usaha kepada lembaga pengelola program DesaMakmur Peduli Api (DMPA).
  • Pelatihan tenaga pendamping program Desa Makmur Peduli Api (DMPA).
  • Pelatihan pembuatan kompos dari kotoran ternak sapi kepada KT. Mekar Jaya, Desa Dataran Kempas, Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Tanjung Jabung Barat.
  • Pelatihan komunikasi dan motifasi kepada pengelola program Desa Makmur Peduli Api (DMPA).
  • Pelatihan pembukuan sederhana kepada Pendamping dan lembag pengelola program Desa Makmur Peduli Api (DMPA).

B. Program Pengembangan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK)
Hasil hutan bukan kayu di areal PT. Wirakarya Sakti pada umumnya berada pada kawasan konservasi. Sampai saat ini perusahaan tidak melarang masyarakat untuk memanfaatkan hasil hutan bukan kayu yang diambil dari kawasan konservasi sepanjang tidak merusak hutan. Perusahaan telah melakukan pengelolaan HHBK sebagai berikut:

  • Melakukan inventarisasi jenis HHBK yang dilakukan oleh konsultan APCS pada tahun 2014
  • Membuat peta sebaran HHBK tahun 2017 dan monitoring produksi HHBKdan masyarakat yang memanfaatkannya HHBK tahun 2017.
  • Pembentukan kelompok HHBK berdasarkan jenis HHBK dan tempat tinggal. Sampai saat ini terdapat 21 kelompok HHBK dengan perincian sbb: 10 kelompok HHBK madu, 7 kelompok HHBK ikan, 4 kelompok HHBK rotan dan 8 kelompok tani HHBK rumput.
  • Pembuatan Kerjasama pemanfaatan HHBK (SPK) antara perusahaandengan kelompok HHBK.
  • Melakukan penyuluhan, pendidikan dan pemberdayaan ke kelompok HHBK.
  • Melakukan patroli untuk mencegah terjadinya aktivitas pemanfaatan HHBKdengan cara-cara yang dapat mengganggu kelestarian sekaligusmelakukan pembinaan terhadap pelakunya.
  • Rehabilitasi kawasan lindung dengan jenis bukan kayu
  • Penaburan benih ikan lokal di lokasi-lokasi sungai dan rawa tempatpengambilan ikan oleh kelompok
  • Setiap anggota kelompok HHBK diberi tanda pengenal berupa kartuanggota HHBK dan kaos HHBK untuk memudahkan dalam monitoring
  • Pembuatan dan penyebaran brosur pengelolaan pemanfaatan HHBK untuk masyarakat.
  • Penandaan lokasi pengambilan HHBK ikan, madu, dan rotan

Saat ini pemanfaatan HHBK oleh masyarakat di kasawan konsesi PT.Wirakarya Sakti masih terbatas pada jenis-jenis tertentu yang mempunyai potensi cukup. Tabel berikut merupakan Jenis-jenis HHBK yang sampaisaat ini masih dimanfaatkan masyarakat.

 

C. Pengembangan Sentra Hortikultura dan Peternakan
PT. WKS secara aktif memberikan pelatihan pengembangan budidaya (pertanian, peternakan, perikanan) pada masyarakat serta memprakterkannya secara langsung, sehingga masyarakat dapat memahami lebih baik praktek budidaya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas komoditas yang dibudidayakan. Salah satu praktek langsung adalah dengan pembuatan demplot-demplot usaha produktif seperti demplot pertanian, perikanandan peternakan. Pembuatan demplot ini bertujuan selain sebagai saranapraktek lapangan bagi peserta pelatihan, juga sebagai lokasi percontohan bagikegiatan-kegiatan usaha produktif.

Pada tahun 2017 program CD/CSR aspek ekonomi dikembangkan dengan nama program Desa Makmur Peduli Api (DMPA). Program Desa Makmur Peduli Api merupakan program peningkatan kesejahteraan melalui Sistem Pertanian dan Kehutanan Terpadu (Integrated Forest and farming System). Program DMPA terdiri dari 83 desa binaan perusahaan yang tersebar di 5 kabupaten (Batanghari, Muaro Jambi, Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur dan Tebo). Realisai untuk program DMPA tahun 2017 dapat dilihat pada tabel berikut:

No

Desa

Program

Volume

Satuan

1

Terjun Gajah

Budidaya ikan nila

6.000

Ekor

Budidaya hortikultura

2

Ha

2

Pematang Buluh

Budidaya nanas buah

4

Ha

Budidaya ikan toman

15

Keramba

3

Dataran Kempas

Budidaya ikan nila

30.000

Ekor

Budidaya hortikultura

1

Ha

Budidaya domba

30

Ekor

Budidaya jahe merah

1

Ha

4

Lubuk Sebotan

Budidaya ikan lele

20.000

Ekor

Budidaya itik petelur

96

Ekor

5

Rantau Badak Lamo

Usaha pengeringan ubi racun

1

Paket

Budidaya ikan nila

15.000

Ekor

6

Adipurwa

Budidaya itik petelur

100

Ekor

Home industri tahu

1

Paket

7

Belanti Jaya

Budidaya ikan lele

24.000

Ekor

Budidaya jahe merah

1

Ha

Tumpangsari pepaya dengan sayuran

1

Ha

8

Sungai Papauh

Budidaya itik petelur

200

Ekor

Budidaya kambing lokal

10

Ekor

9

Lubuk Terap

Budidaya ikan nila

6.000

Ekor

10

Kempas Jaya

Budidaya kelapa hibrida

2

Ha

11

Parit Bilal

Budidaya laos gajah

15

Ha

Budidaya hortikultura

4

Ha

12

Sungai Rotan

Budidaya hortikultura

2

Ha

Budidaya ikan nila

3.000

Ekor

Budidaya itik petelur

195

Ekor

13

Purwodadi

Budidaya sapi bali

8

Ekor

 

D. Bidang Pendidikan
Selain pelatihan dan penyuluhan terhadap masyarakat, pada tahun 2017 Pusat Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Juga memfasilitasi pelajar dan mahasiswa untuk melakukan Praktik Kerja Industri, penelitian, Praktik kerja Lapang. Jumlah peserta yang mengikuti kegiatan ini sebanyak 122 orang. Detail kegiatan dan peserta pada tahun 2017 sebabagi berikut:


 

E. Pembinanaan Sosial, Budaya dan Keagamaan
PT. WKS juga mendukung dan memberikan bantuan pada kegiatan Sosial, Budaya dan Keagamaan. Program yang sudah terlaksana untuk tahun 2017, antara lain :
Pembinaan Sosial Budaya:

  • Bantuan fasilitas sosial berupa bantuan inventaris kantor desa, bantuan pakain kepada anak yatim dan bantuan kaos HHBK kepadakelompok HHBK. Bantuan ini direalisasikan sebanyak 73 paket.
  • Bantuan kepemudaan dan olah raga berupa bantuan dana kegiatan futsal,bantuan dana kegiatan Camat Cup, Bantuan dana kegiatan lomba dayungperahu, bantuan pembinaan atlet PBSI Jambi, bantuan peralatan olah raga bola kaki dan bola voli. Bantuan ini dilakukan sebanyak 51 paket.
  • Bantuan dana peringatan hari besar nasional berupa kegiatan perayaan hariulang tahun republik indonesia dan hari besar nasional lainnya. Bantuan ini direalisasikan sebanyak 164 paket.


PT. WKS juga melakukan pembinaan kepada SAD berupa Program Pendidikan Luar Sekolah (PLS)bekerjasama dengan Perkumpulan Pelita Kita. Kegiatan pemberdayaan inidilaksanakan dari Bulan Juli 2012 sampai dengan Tahun 2013. Program pendidikan yang sudah dilaksanakan dilapangan, yaitu:pembangunan pondok belajar, pembuatan pondok pelita kita, dan proses kegiatan belajar mengajar untuk anak-anak SAD.
Selain program pendidikan untuk masyarakat adat seperti Suku Anak Dalam (SAD), di tahun 2017 PT. WKS juga memberikan bantuan lain kepada masyarakat adat khususnya SAD, seperti:

  • Pemberian alat pertanian, Kelompok SAD Tumenggung Bujang Itam adalah kelompok SAD yangsudah menetap. Kegiatan sehariannya adalah berkebun dan bertani.
  • Pemberian Seragam sekolah, Kelompok SAD Bujang Itam yang sudah menetap sudah mulai berinteraksi dengan masyarakat desa sekitar. Slaha satu bentuk interaksinya adalah mengikutsertakan anak SAD Tumenggung Bujang Itam ke pendidikan dasar di Desa Sungai Paur.
  • Bantuan sembako untuk SAD Kelompok Tumenggung Ngamal dan Girang.

Pembinaan Keagamaan:

  • Bantuan pelaksanaan kegiatan Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ), baikkegiatan pelaksanaan maupun pengiriman kafillah/pesertanya. Kegiatan inidirealisasikan sebanyak 22 paket.
  • Bantuan dana pelaksanaan kegiatan perayaan hari besar keagamaan berupa perayaan malam satu muharam, kegiatan idul fitri, kegiatan maulid nabi, isra’mikraj dan perayaan natal. Bantuan direalisasikan sebanyak 63 paket.

Dengan adanya kegiatan CD/CSR pada aspek sosial budaya dan keagamaan,perusahan dapat melakukan komunikasi secara langsung maupun tidaklangsung dengan masyarakat sehingga terjalin hubungan yang baik,perusahaan dapat mengenal karakter, kultur atau budaya serta sumberdaya, baik sumber daya manusia maupun sumber daya alam, yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan program.

 

G. Pembangunan Infrastruktur
Guna mendukung pembangunan dan pengembangan Desa sekitar konsesi, PT. WKS aktif dalam mendukung pembangunan infrastruktur Desa. Dengan pembangunan infrastruktur yang ada di desa
diharapkan dapat mendukung aktifitas masyarakat, baik dalam menjalankanaktifitas ekonomi, sosial budaya, keagamaan dan pendidikan. Pada tahun 2017realisai program CD/CSR pada aspek infrastruktur mencapai 6,80% dari totalbiaya realisasi. Beberapa program yang sudah berjalan antara lain:

  • Infrastruktur ekonomi, yaitu servis jalan desa, perbaikan jembatan,pemasangan gorong-gorong dan pembuatan kolam ikan, Jumlah realisasisebanyak 49 paket.
  • Infrastruktur keagamaan meliputi bantuan material untuk pembangunan danrehab mesjid dan mushola. Jumlah realisasi sebanyak 5 paket.
  • Infrastruktur Sosial budaya, meliputi: pembuatan lapangan sepak bola,pembuatan lapangan futsal, pembuatan lapangan voly, pembuatan jambankeluarga, penimbunan lokasi pembuatan puskesdes, bantuan tenda besiuntuk desa dan pembangunan pos siskamling. Jumlah realisasi sebanyak 11 paket.


Selain untuk membantu menyediakan sarana prasana infrastruktur sosialekonomi di desa, perusahaaan memberikan kesempatan kepada masyarakatsekitar untuk dapat memanfaatkan fasilitas fisik perusahaan sesuaikebutuhannya. Detail fasilitas umum perusahaan yang dapatdimanfaatkan oleh masyarakat dapat dilihat pada tabel sebagai berikut: